Musim Mas dan NTU Singapura Luncurkan Riset yang Berlangsung Sekitar Dua Tahun untuk Meneliti Penyebaran Praktik Keberlanjutan di Kalangan Petani Kecil Mandiri

Avatar photo

- Writer

Monday, 9 February 2026 - 23:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kolaborasi yang berlangsung sekitar dua tahun ini meneliti faktor-faktor yang mendorong petani kecil mandiri menerapkan praktik kelapa sawit berkelanjutan, serta bagaimana perilaku tersebut menyebar di komunitas petani di Indonesia.

SINGAPURA, 10 Februari 2026 /PRNewswire/ — Musim Mas Group bersama para peneliti dari Nanyang Technological University, Singapura (NTU Singapura) memulai kolaborasi riset selama sekitar dua tahun untuk meneliti faktor-faktor yang memotivasi petani kecil mandiri menerapkan praktik kelapa sawit berkelanjutan, serta bagaimana praktik tersebut dapat menyebar luas di tengah komunitas petani.

Dipimpin oleh Associate Professor Janice Ser Huay Lee dari Asian School of the Environment, NTU Singapura, penelitian ini berfokus pada petani kecil mandiri di Provinsi Riau, Indonesia, termasuk petani yang tergabung maupun tidak tergabung dalam Asosiasi Perkebun Swadaya Kelapa Sawit Pelalawan Siak (APSKS-PS), sebuah asosiasi petani kecil mandiri yang didukung Musim Mas. Riset ini akan mengkaji faktor-faktor perilaku, sosial, dan spasial yang memengaruhi proses pembelajaran, berbagi pengetahuan, dan penerapan praktik keberlanjutan.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meski industri kelapa sawit telah mencatat kemajuan dalam mendorong praktik keberlanjutan di kalangan petani kecil, tingkat penerapannya masih belum merata. Program pelatihan saja sering kali belum cukup untuk menghasilkan perubahan perilaku dalam jangka panjang. Faktor-faktor seperti kepercayaan, jaringan sesama petani, manfaat yang dirasakan, serta akses terhadap informasi tepercaya berperan penting memengaruhi keputusan petani. Untuk memperluas penerapan praktik keberlanjutan secara efektif, industri kelapa sawit perlu memahami alasan dan cara petani mengubah praktik budi daya sawit.

Tim peneliti NTU akan memadukan analisis spasial, pemetaan jaringan sosial, serta survei skala besar terhadap petani untuk mempelajari dinamika di tengah komunitas petani kecil mandiri. Proyek riset ini ingin mengidentifikasi faktor-faktor utama yang dapat memprediksi penyebaran perilaku berkelanjutan. Dengan demikian, riset ini mampu menghasilkan temuan berbasiskan bukti sebagai acuan bagi perusahaan dan pembuat kebijakan untuk mempromosikan praktik keberlanjutan di kalangan petani kecil mandiri.

Musim Mas mengelola program petani kecil mandiri terbesar di Indonesia dan telah melatih lebih dari 40.000 petani sejak 2015. Pelatihan petani kecil mandiri menjadi pilar utama dalam upaya keberlanjutan Musim Mas—meskipun petani kecil mandiri tidak secara langsung memasok kelapa sawit bagi perusahaan—dengan pemahaman bahwa praktik penanaman dan penanaman ulang yang berkelanjutan sangat penting bagi kesehatan industri kelapa sawit dalam jangka panjang.

Kolaborasi ini mendukung komitmen Musim Mas terhadap praktik keberlanjutan berbasiskan sains melalui kemitraan dengan lembaga riset terkemuka seperti ETH Zurich, University of Cambridge, dan IPB.

"Agar praktik keberlanjutan benar-benar berakar, kita perlu memahami apa yang benar-benar memotivasi petani untuk mengubah perilaku—dan bagaimana perubahan itu menyebar di tengah komunitas petani," ujar Rob Nicholls, General Manager, Programs and Projects, Musim Mas. "Kolaborasi dengan para peneliti NTU ini membantu kami beralih dari sekadar mengajarkan praktik keberlanjutan menuju pemahaman yang lebih mendalam sehingga program kami dapat menjadi lebih efektif, inklusif, dan berkesinambungan."

Musim Mas akan memfasilitasi akses lapangan dan pengumpulan data untuk proyek penelitian yang akan dipimpin secara independen oleh tim NTU.

Kolaborasi ini juga selaras dengan keunggulan riset ASE dalam penelitian lingkungan hidup lintasdisiplin, terutama pada dimensi sosial dari pembangunan berkelanjutan di Asia Tenggara.

"Petani kecil mandiri memegang peran penting dalam industri kelapa sawit. Namun, proses pengambilan keputusan dan jaringan sosial mereka sering kali kurang mendapat perhatian," ujar Associate Professor Janice Ser Huay Lee, Asian School of the Environment, NTU Singapura. "Melalui kemitraan ini, kami ingin mengungkap bagaimana pengetahuan, kepercayaan, dan pengaruh membentuk penerapan praktik kelapa sawit berkelanjutan—temuan bermanfaat untuk merancang intervensi yang lebih efektif dan adil di kawasan ini."

Proyek ini berlangsung sekitar 2 tahun 9 bulan, berawal dari Juni 2025 dan berakhir pada Maret 2028, dengan kunjungan lapangan di Kabupaten Pelalawan dan Siak, Provinsi Riau. NTU bekerja sama dengan tiga universitas di Indonesia, yakni Universitas Sumatera Utara, IPB, dan Universitas Riau. Hasil penelitian akan menjadi dasar pengembangan program petani kecil mandiri dan strategi keterlibatan pada masa depan, serta berpotensi diterapkan di sektor pertanian berbasiskan petani kecil lain di Asia Tenggara.

Narahubung: 
media@musimmas.com 

 

 

Berita Terkait

Laporan Terbaru Huawei Paparkan 10 Arah Utama Menuju “Intelligent World 2035”
Bukan Soal Dari Mana Memulai, Mahasiswa Horizon Education Buktikan Setiap Mimpi Layak Diperjuangkan
Amos International Candy Festival 2026 Hadirkan Inovasi Manis untuk Hidup yang Lebih Ceria dan Sehat
Tolak Eksploitasi Anak, RedDoorz Gandeng ECPAT dan Bergabung dengan The Code untuk Perkuat Perlindungan Anak
Axera dan Aptiv Hadirkan Teknologi Bantuan Pengemudi Berbasis M57 pada Mobil Buatan Tiongkok untuk Pasar Eropa
TMGM Semakin Gencar Dukung Pengembangan “Para Sport” di Vanuatu
Körber menghadirkan gudang otomatis berkapasitas tinggi bagi penyedia solusi manajemen informasi dan penyimpanan arsip terkemuka di Asia Tenggara
Generative AI Rambah Dunia Nyata: CATL dan Aramco Ventures Suntik Investasi ke DeepCtrls, Hadirkan AI di Dunia Fisik

Berita Terkait

Thursday, 17 September 2026 - 11:21 WIB

Laporan Terbaru Huawei Paparkan 10 Arah Utama Menuju “Intelligent World 2035”

Thursday, 17 September 2026 - 07:57 WIB

Bukan Soal Dari Mana Memulai, Mahasiswa Horizon Education Buktikan Setiap Mimpi Layak Diperjuangkan

Thursday, 17 September 2026 - 07:14 WIB

Amos International Candy Festival 2026 Hadirkan Inovasi Manis untuk Hidup yang Lebih Ceria dan Sehat

Thursday, 17 September 2026 - 02:00 WIB

Tolak Eksploitasi Anak, RedDoorz Gandeng ECPAT dan Bergabung dengan The Code untuk Perkuat Perlindungan Anak

Wednesday, 16 September 2026 - 23:49 WIB

Axera dan Aptiv Hadirkan Teknologi Bantuan Pengemudi Berbasis M57 pada Mobil Buatan Tiongkok untuk Pasar Eropa

Berita Terbaru